Senin, 31 Agustus 2015

TEKNOLOGI INFORMASI SEBAGAI JAWABAN MASALAH KEMACETAN

Project 1 PRD ITB 2015

        Sebagaimana kita ketahui dunia sedang mengalami krisis perkotaan, termasuk Indonesia. Bahkan untuk negara seperti Indonesia krisisnya pastinya bermacam-macam. Salah satu krisis utama yang harus diselesaikan terlebih dahulu adalah “kemacetan”. Terhitung survey dari Castrol’s Magnetec Stop-Start index tahun 2015, Jakarta menduduki peringkat pertama kota yang paling macet di dunia, yang di susul Istanbul di peringkat kedua. Dari survey tersebut sepuluh besar dari kota paling macet di dunia, dua diantaranya adalah kota di Indonesia yang mana satu kota yang lain adalah Surabaya yang menduduki peringkat keempat. Menurut indeks tersebut, rata-rata terdapat 33.240 kali proses berhenti-jalan per tahun di Jakarta sedangkan Surabaya sebanyak 29.880 proses berhenti-jalan. Ini menandakan kemacetan adalah salah satu krisis perkotaan terburuk yang dialami Indonesia saat ini, terutama Jakarta. Tiap harinya ada 300 mobil dan 1000 motor baru yang terjual dan memadati jalan padahal infrastruktur lain tidak bertambah. Ini mengakibatkan kemacetan akan semakin bertambah parah apabila tidak dicari solusinya.


Berbagai upaya telah dicanangkan pemerintah untuk mengatasi kemacetan di Jakarta mulai dari MRT, busway, hingga pembuatan jalan layang melingkar seperti di Semanggi. Namun dimana ada solusi disitu pasti selalu ada pro dan kontra. Seperti yang dikatakan Yayat Supriatna, seorang Pengamat Perkotaan. Menurut beliau analisa dampak lingkungan itu harus matang, kalau tidak implikasinya bisa lebih besar, bahkan bisa menciptakan kemacetan yang lebih parah. Sedangkan menurut David Allen dari Bombardier Transportation MRT, sistem transportasi adalah yang penting bagi perkotaan, tapi sistem MRT tersebut hanyalah bagian dari solusi bukan merupakan solusi utama dari kemacetan. Beliau juga mengatakan bahwa sistem yang berhasil di suatu tempat, seperti yang dikembangkan di Asia Pasifik belum tentu akan berhasil di tempat lain. Kemudian menurut Mohd Azharudin, Direktur Performance and Management Unit, Prime Minister’s Department Malaysia, untuk memajukan transportasi hal pertama yang dilakukan adalah mengajak semua kementerian terkait untuk bekerjasama, membawa para ahli terbaik, membawa segala SDA yang ada dan terakhir berkolaborasi dengan banyak pihak serta komitmen politik yang kuat agar dapat tercipta sistem transportasi yang terbaik. Kedua usulan diatas diberikan pada saat acara New Cities Summit Jakarta 2015.


Segala upaya telah diusahakan pemerintah namun tetap belum berhasil maksimal. Kira-kira apakah yang kurang, atau adakah suatu strategi yang kita lewatkan? Yah, mungkin ada. Kita mungkin lupa bahwa perkembangan teknologi informasi lebih tinggi dibandingkan perkembangan transportasi. Maka dari itu menurut saya pribadi solusi dari kemacetan adalah dengan menggunakan teknologi informasi yang tentu saja dibarengi dengan sosialisasi kemudian kesadaran pribadi dari masyarakat itu sendiri. Terdapat dua program TI yang pada saat ini sedang dikembangkan dan sangat saya sarankan untuk lebih diketahui dan dipahami oleh masyarakat secara umum akan penggunaan dan cara pengaplikasian pada kasus yang sedang kita alami ini, kemacetan. Aplikasi TI pertama yang ingin saya perkenalkan adalah “Waze”. Waze adalah aplikasi berbasis GPS yang merupakan hasil kerja sama dengan Pemprov DKI. Aplikasi ini memudahkan warga mengurangi macet dengan berbagi berbagai informasi dan dapat diunduh secara gratis melalui smartphone maupun android. Gubernur DKI Jakarta, Ahok mengatakan bahwa dengan adanya aplikasi ini pemerintah tidak perlu membangun Intelligent Traffic System (ITS) yang memakan anggaran triliunan rupiah. Operasi ini berjalan dengan memanfaatkan informasi dari pemerintah akan kebutuhan pengguna jalan dan juga pengguna yang memanfaatkan aplikasi Waze untuk memudahkan penyaluran informasi tersebut, menurut Shmuelevitz, Wakil Presiden Komunitas dan Operasi Waze.

Secara umum langkah dari aplikasi “Waze” ini adalah :

  1. Pemerintah melakukan survey lapangan kepada masyarakat pengguna jalan akan kebutuhan mereka,
  2. Informasi di jalan dilaporkan kepada para pengguna secara “real time”,
  3. Pemerintah atau operator dapat merespon pada saat itu juga apabila diperlukan,
  4. Pengendara lebih mudah memetakan rute perjalanan yang hendak ditempuh,
  5. Informasi dari pengguna Waze ditambah data dari pemerintah kemudian diolah lebih lanjut dan dikembalikan ke pengguna lain yang membutuhkan.
           Sedangkan aplikasi kedua adalah “Floo Ride Sharing for Better Mobility”. Aplikasi ini dinilai dapat menjadi solusi kemacetan terutama di Jakarta karena telah meraih juara umum dalam kompetisi aplikasi “Smart City” yang diselenggarakan oleh BlackBerry dan bekerja sama dengan BlackBerry Inovation Center (BBIC). Aplikasi ini walaupun dinilai sangat meluas namun memiliki tingkat keamanan yang relatif baik. Aplikasi ini beroperasi dengan memanfaatkan media sosial yang ada, contohnya facebook. Sebagaimana kita ketahui orang Indonesia sangat aktif di sosmed dengan memiliki ribuan teman di dalamnya. Hal itu dimanfaatkan oleh program ini dengan cara membuat pengguna sosmed berbagi kendaraan pribadi untuk menuju ke tempat tujuan yang sama.

Secara umum langkah dari aplikasi Floo Ride Sharing for Better Mobility ini adalah :

  1. Menentukan tujuan,
  2. Menjodohkan pengguna sosmed yang memiliki tujuan yang sama,
  3. Melanjutkan pembicaraan bagi para pengguna yang memiliki tujuan yang sama melalui sarana chat yang telah disediakan,
  4. Menentukan semua rute yang hendak dilalui dan kendaraan yang akan dipakai oleh para pengguna yang telah sepakat.
               Aplikasi ini juga dilengkapi dengan “Don’t Panic” yang mana memungkinkan pengguna untuk terhubung dengan operator jika dalam situasi yang darurat. Ditambah lagi aplikasi “Rating and Comment” yang memungkinkan seorang pengguna menilai pengguna yang lain baik yang diberi tumpangan maupun yang dimintai tumpangan sehingga kelakuan seorang pengguna dapat diketahui dengan jelas. Intinya aplikasi ini berusaha mengurangi jumlah kendaraan pribadi yang lalu lalang di jalan raya sehingga berpotensi mengurangi atau bahkan mengatasi kemacetan.

  Demikianlah solusi kemacetan berbasis teknologi informasi yang ingin saya perkenalkan kepada masyarakat. Semoga bermanfaat dan membawa berkah bagi kita semua. Namun segala hal atau program dapat terlaksana secara maksimal tentu saja kembali lagi pada kesadaran dan kepedulian pengguna jalan itu sendiri. Segala kritik dan masukkan yang membangun dapat anda kirimkan melalui email muhung250696@gmail.com .




Referensi-referensi:

Referensi gambar :